Harga Minyak Naik Di Atas $80 Untuk Pertama Kalinya Dalam Tiga Tahun

harga minyak

Harga minyak naik di atas $80 per barel pada hari Selasa(28/8), minggu lalu. Harga ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun karena pound merosot. Brent Crude, patokan internasional harga minyak, naik menjadi $80,69 pada hari itu, terbesar sejak Oktober 2018. Harga minyak terus naik selama tujuh hari berturut-turut akibat krisis energi di Eropa.

Analis percaya bahwa harga minyak akan terus naik di tengah melonjaknya permintaan dan ketatnya pasokan. Bank investasi, Goldman Sachs, mengatakan Brent bisa mencapai $90 per barel pada akhir tahun, memperingatkan bahwa kenaikan biaya input, harga gas yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah kemungkinan akan membebani pertumbuhan laba perusahaan Eropa untuk tahun 2021.

“Ketika pertumbuhan melambat, semakin sulit bagi perusahaan untuk menanggung biaya input yang lebih tinggi, yang merupakan risiko utama untuk margin laba bersih,” kata pemberi pinjaman Wall Street. Hal tersebut terjadi ketika pound mengalami penurunan satu hari terbesar terhadap dolar pada hari Selasa (28/8), jatuh 1,3% menjadi hanya di bawah $ 1,3530 di tengah kekhawatiran inflasi.

Penurunan tersebut merupakan yang terendah sejak Januari, karena investor mencari tempat yang aman dalam dolar. Pasar saham juga menuju lebih rendah, dengan indeks Eropa di zona merah, dan saham di Wall Street juga jatuh. Jordan Rochester, analis mata uang di Nomura, mengatakan bahwa meningkatnya kekhawatiran inflasi membuat aset berdenominasi sterling kurang menarik.

Minyak mentah Brent di sisi lain telah naik sekitar 55% untuk tahun ini hingga saat ini. Sedangkan untuk West Texas Intermediate (WTI) juga naik menjadi sekitar $75 per barel. Padahal harga minyak sebelumnya merosot pada awal pandemi. Pada April tahun lalu, harga jatuh di bawah nol untuk pertama kalinya dalam sejarah.

harga minyak

Namun, permintaan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena ekonomi di seluruh dunia mulai dibuka kembali. Permasalahan lain ada pada pasokan minyak global yang juga terkena dampak badai Ida dan Nicholas yang melewati Teluk Meksiko dan merusak sebagian infrastruktur minyak AS.

Lonjakan dramatis harga gas alam juga membuat minyak menjadi alternatif pembangkit listrik yang relatif lebih murah, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan. Pedagang minyak independen terbesar di dunia, Vitol Group, mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan global untuk minyak mentah meningkat 500.000 barel per hari pada musim dingin ini.

Naeem Aslam, kepala analis pasar di Thinkmarkets mengatakan bahwa India, importir minyak mentah terbesar kedua, juga telah meningkatkan impor minyaknya ke level tertinggi tiga bulan pada Agustus, karena penyulingan mulai menimbun dimana mereka memproyeksikan permintaan yang lebih tinggi ke depan.

Kelompok pengekspor minyak OPEC juga mengatakan akan adanya lonjakan permintaan, tetapi memperkirakan ini akan sedikit lebih rendah, sekitar 370.000 barel lebih banyak per harinya. Selama pandemi, beberapa anggota kelompok produsen OPEC+, yang mencakup sekutu Rusia dan beberapa negara lain, memangkas produksi dan sejak itu mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan yang mulai pulih.

Di Inggris, pengendara kendaraan bermotor sedang berjuang dengan harga bahan bakar mencapai tertinggi dalam delapan tahun. Hal ini dipicu oleh kekurangan pengemudi kendaraan barang di negara itu. Harga bensin mencapai 135,3 poundsterling atau 2,7 juta rupiah per liter, sedangkan biaya rata-rata solar sekarang berada di 136,9 pound sterling. 

Harga minyak secara langsung dikaitkan dengan biaya bahan bakar grosir, karena minyak mentah digunakan dalam produksi bensin dan solar. Simon Williams, juru bicara RAC fuel, mengatakan gambar itu “cukup menakutkan” untuk pengemudi. Dia mengatakan dengan harga minyak naik dan sekarang mendekati level tertinggi tiga tahun, harga grosir dipaksa naik.