Penyebaran Varian Delta COVID-19 Diprediksi Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

penyebaran varian Delta COVID-19

Pemulihan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik diprediksi akan terganggu oleh penyebaran varian Delta COVID-19. Penyebaran varian Delta tersebut diprediksi kemungkinan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan ketidaksetaraan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, disampaikan oleh kata Bank Dunia, Senin (27/8)

Aktivitas ekonomi telah terpantau mulai melambat pada kuartal kedua tahun 2021 dan menyebabkan perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi diturunkan untuk sebagian besar negara di kawasan ini. Hal tersebut disampaikan menurut Pembaruan Ekonomi Musim Gugur 2021 di Asia Timur dan Pasifik oleh Bank Dunia setelah melihat perkembangan infeksi COVID-19 di kawasan tersebut.

Di sisi lain, ekonomi raksasa China diproyeksikan tumbuh sebesar 8,5%, sementara untuk wilayah lainnya diperkirakan tumbuh 2,5%, hampir 2 poin persentase lebih rendah dari perkiraan pada April 2021, kata Bank Dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Manuela Ferro, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik dimana pemulihan ekonomi negara berkembang Asia Timur dan Pasifik menghadapi pembalikan keberuntungan.

Manuela juga mengatakan bahwa pada tahun 2020 wilayah Asia Timur dan Pasifik masih dikuasai COVID-19 sementara wilayah lain di dunia sudah mulai untuk melakukan pemulihan. Peningkatan kasus COVID-19 pada tahun 2021 telah menurunkan prospek pertumbuhan untuk tahun 2021 tambahnya. Laporan tersebut memperkirakan sebagian besar negara di kawasan ini, termasuk juga Indonesia dan Filipina. 

Baik Indonesia maupun Filipina diprediksi akan dapat memvaksinasi lebih dari 60% populasi mereka pada paruh pertama tahun 2022. Meskipun upaya tersebut itu tidak akan sepenuhnya menghilangkan infeksi virus corona, namun itu akan secara signifikan mengurangi angka kematian, memungkinkan dimulainya kembali aktivitas perekonomian yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di dua negara tersebut.

penyebaran varian Delta COVID-19

Bank Dunia juga menyampaikan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh kebangkitan dan persistensi COVID-19 kemungkinan akan mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan ketidaksetaraan ekonomi dalam jangka panjang apabila pemerintah tidak menemukan solusi yang tepat untuk menangani penyebaran COVID-19 terutama varian baru yang mungkin akan muncul dan lebih berbahaya.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo juga menyampaikan bila vaksinasi dan pengujian yang dipercepat untuk mengendalikan infeksi COVID-19 dapat menghidupkan kembali kegiatan ekonomi di negara-negara yang sedang berjuang pada paruh pertama tahun 2022, hal ini nantinya akan menggandakan tingkat pertumbuhan ekonomi meski baru dapat dirasakan di tahun depan. 

Akan tetapi dalam jangka panjang, reformasi yang lebih dalam yang dapat mencegah lambatnya pertumbuhan ekonomi yang dampaknya akan meningkatkan ketidaksetaraan serta kombinasi pemiskinan akibat dari pandemi belum pernah terjadi di kawasan ini pada abad ini. Pemerintah harus lebih serius dalam upaya penanganan agar dapat berdampak pada perekonomian atau akan terus tertinggal oleh negara lain yang sudah mulai merasakan pertumbuhan ekonomi kembali.

Bank Dunia mengatakan kawasan Asia Timur dan Pasifik perlu melakukan upaya serius di empat bidang untuk menghadapi peningkatan virus corona yakni yang pertama adalah mengatasi keraguan vaksin dan keterbatasan kapasitas distribusi. Selanjutnya perlu meningkatkan pengujian dan penelusuran dari perkembangan infeksi COVID-19. 

Upaya selanjutnya adalah peningkatan produksi vaksin daerah atau lokal yang mana kemudian akan dapat memperkuat sistem kesehatan lokal. Terlebih dengan adanya isu ekonomi di wilayah Amerika dan juga Eropa yang mungkin akan memberikan dampak bagi negara lain seperti salah satunya adalah di Asia.